browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Menjadi Presenter yang Baik

Posted by on July 25, 2011

Diringkas dari Buku “Jurnalistik Televisi” oleh Askurifai Baksin

Menjadi seorang presenter bukan hanya menjadi seseorang yang berbicara di depan khalayak, tetapi juga harus mampu mengajak khalayak larut dalam topik yang dibawakan. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadi presenter yang baik, menurut Tantowi Yahya, adalah sebagai berikut:

1. PENGGUNAAN HUMOR

Penggunaan humor dalam suatu presentasi merupakan senjata yang ampuh untuk merebut hati khalayak dan keluar dari krisis. Cara ini dianggap efektif karena sangat membantu mengurangi ketegangan dan kebosanan khalayak. Walaupun begitu, tidak semua presenter bisa menyampaikan humor yang dapat membuat khalayak terhibur. Jika seorang presenter tidak mempunyai kemampuan untuk itu, sebaiknya jangan dipaksakan, karena hal itu malah menimbulkan kesan konyol.

2. BAHASA TUBUH

Penggunaan bahasa tubuh yang baik dan benar dapat mempermudah seorang pembicara dalam menyampaikan sesuatu. Dalam beberapa kasus, bahasa tubuh ternyata lebih komprehensif daripada kata-kata. Bahasa tubuh dalam konteks pembicara terbagi menjadi:A. Pakaian

Cara berpakaian akan menunjukkan dari kelompok mana seseorang berasal. Melalui pakaian, kita harus berusaha untuk diakui oleh khalayak yang kita hadapi agar dianggap satu dengan mereka. Oleh karena itu kita harus menyesuaikan diri siapa khalayak yang kita hadapi. Berpakaian pada saat berbicara tidak perlu harus mewah. Jangan sampai khalayak memperhatikan apa yang kita kenakan, bukan apa yang kita bicarakan. Intinya, dalam berpakaian, kita harus menyesuaikan jenis khalayak dan di mana kita tampil.

B. Gerakan tubuh/ postur

Postur atau gerakan tubuh yang kita tampilkan di depan akan memberikan gambaran sikap. Cara berjalan saat pertama kali muncul harus kita perhatikan. Pastikan kedua kaki lurus pada waktu melangkah. Jangan berlenggang dan berjalan terlalu tegap, usahakan tenang dan penuh kewaspadaan. Tegakkan kepala dan pandang khalayak dengan mata yang antusias dan penuh senyum. Ketika berbicara, pastikanbagian atas tubuh lurus sehingga paru-paru mempunyai ruang yang cukup untuk bernafas.

C. Kontak mata

Kemampuan menciptakan kontak mata dengan khalayak pada saat berbicara adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pembicara. Kontak mata adalah kontrol yang ampuh untuk mengetahui apakah kita pembicara yang membosankan atau menyenangkan. Dari mata khalayak, kita bisa mengetahui apakah ia menikmati pembicaraan atau tidak.

D. Gerakan tangan

Gerakan tangan menunjukkan antusiasme kita terhadap acara dan khalayak. Gerakan tangan yang kita perlihatkan saat tampil di depan sebaiknya tidak berlebihan. Kita bisa mempelajari gerakan tangan dengan melihat bagaimana orang di sekitar kita berbicara sambil menggerakkan tangan dalam kehidupan sehari-hari. engan cara ini, kita bisa melihat gerakan tangan yang wajar, sehingga tidak berlebihan.

Kebiasaan buruk saat berbicara seperti menggaruk-garuk kepala harus kita hindari dengan cara terus berlatih, mencoba berbicara tanpa gerakan sama sekali, atau siapkan cue card (lembar catatan) serta peganglah. Gerakan tangan biasanya tidak kita sadari dan lahir karena kegugupan kita. Usahakan gerakan tangan yang kita smunculkan memiliki makna.

E. Ekspresi wajah

Munculkan ekspresi wajah yang rileks, bersahabat, ramah dan menyenangkan melalui senyum yang tulus.

3. KONTROL SUARA

Faktor penting yang mendukung penampilan kita di depan khalayak saat berbicara adalah suara. Penyampaian vokal yang baik bisa kita dapat melalui penguasaan terhadap 3 hal, yaitu:

A. Pernafasan

Untuk berbicara di depan publik diperlukan ruang suara yang solid agar dapat menyampaikan kalimat yang lebih panjang dari biasanya, pada volume suara yang benar. Epngontrolan sempurna terhadap diafragma membuat kita mampu mengatur ruang udara yang diprelukan untuk mengeluarkan suara. Posisi yang baik mengintrol pernafasan adalah berdiri tegak untuk memberikan ruang yang lebih kepada paru-paru. Cara lain dalam meningkatkan kemampuan pengontrolan diafragma:

  1. Berdiri tegak dengan kaki tidak terlalu rapat. Tangan tergantung biasa dan rileks.
  2. Ambil nafas yang dalam melalui hidung dan hitung sampai empat. Rasakan bagaimana mekarnya ruang dada. Jangan angkat bahu karena akan mengurangi ruang di dada.
  3. Tahan nafas di paru-paru dalam hitungan keempat, kemudian biarkan udara keluar melalui mulut.
  4. Jangan makan terlalu banyak sebelum bicara. Makanan akan mempersempit ruang oaru-paru.
  5. Volume

Keberhasilan dalam berbicara tidak selalu ditentukan oleh kerasnya suara. Volume suara ketika berbicara di depan publik hanya sedikit lebih keras dari volume suara percakapan sehari-hari. jika publik banyak dan suara terlalu kecil, cukup menggunakan bantuan pengeras suara.

Agar volume suara yang kita keluarkan saat berbicara di depan publik dapat didengar, mulailah dengan cara membuka mulut sedikit lebih besar dari biasanya. Jangan berkerut, sisakan ruang yang cukup di dada sehingga suara bebas keluar. Keluarkanlah suara sedikit lebih besar dari biasanya. Dengan cara ini, kita akan merasa seolah-olah melakukan percakapan biasa namun bisa di dengar khalayak.

B. Ekspresi

Suara yang baik tidak akan berarti tanpa ekspresi yang baik. Tiga elemen penting yang harus diperhatikan dalam ekspresi adalah:

a. Pitch (Tinggi rendah suara)

Setiap orang memiliki pitch yang berbeda dan tergantung pada situasi apa ia berada. Dalam konteks berbicara di depan publik, suara tinggi biasanya disebabkan oleh rasa gugup yang tidak terkontrol. Pitch tinggi dalam public speaking dapat disiasati dengan cara latihan intensif, kalau perlu dengan instruktur.

b. Pace (kecepatan berbicara)

Dalam berbicara di depan khalayak sebaiknya jangan terlalu cepat. Hal ini dilakukan agar khalayak memiliki waktu untuk mendengar dan menelaah kata-kata yang disampaikan oleh pembicara. Tempo cepat diperlukan untuk menunjukkan sikap enerjik, sedang tempo lambat diperlukam pada topik-topik penting. Tips yang bisa kita lakukan dalam mengntrol tempo adalah berhenti sejenak sebelum dan sesudah menyampaikan pernyataan yang oenting dan panjang, ambil nafas, dan sesekali melihat ke arah khalayak.

c. Phrasing (pemenggalan kalimat)

Pemenggalan kalimat harus diperhatikan tidak hanya untuk mengatur nafas, tetapi juga dalam penyampaian makna. Arti kalimat akan berbeda jauh dengan makna sebenarnya jika salah memenggal kata atau kalimatnya.

Untuk mengontrol suara agar tetap prima, Habib Bahri memberikan kiat latihan:

  1. Latihan pernafasan
  2. Latihan pengucapan
  3. Latihan kelancaran
  4. Latihan intonasi
  5. Latihan gerak tubuh

 

Leave a Reply